Pertama-tama perkenankan aku
memperkenalkan diri, namaku Dian, 24 tahun. Aku kini hampir setahun bekerja di
sebuah biro iklan tak lama setelah lulus kuliah. Dilihat secara fisik aku
terbilang cantik, setidaknya begitulah yang dikatakan orang-orang. Tubuhku 169
cm dengan kulit putih mulus dan membentuk lekukan indah. Rambutku hitam panjang
sedada dan mata yang bulat.
Oke kukira cukup perkenalan diriku,
kalau kebanyakan ntar dibilang narsis lagi hehehe. Kisah ini terjadi ketika
seorang sahabatku, Sandra, akan berangkat keluar kota menyusul suaminya ke kota
G tempo hari, ia telah memintaku sekali-kali untuk menengok keadaan rumahnya
selama ia tidak di rumah. Rumah mereka hanya ditinggali seorang anak asuh
mereka, Alfi yang usianya baru akan beranjak 17 tahun.
Ia bertubuh kurus dan berkulit hitam,
mereka baru sekitar satu tahunan mengadopsinya. Tak banyak yang kutahu mengenai
anak itu. Setahun belakangan semenjak Sandra menikah aku jarang mampir ke rumah
mereka hanya sempat kadang telepon-teleponan dengannya.
Sandra juga mempergunakan jasa
pembantu bik Nah, orangnya sudah tua namun hari ini ia minta izin untuk pulang
mudik selama satu minggu. Kebetulan hari sudah agak malam saat aku mampir, Alfi
yang membukakan aku pintu, kulihat ia senang sekali melihatku datang.
“Fii, Bik Nah udah berangkat ya?”
tanyaku
“Iya kak, tadi pagi-pagi sekali…Kak,
Kakak nginap di sini,kan?”
“Ngga Fii, kakak hanya sebentar. Habis
nengok Kak Sandra kakak langsung pulang”
“Nginep aja kak, temani Alfi. Soalnya
Alfi takut tinggal sendirian di rumah”
Aku menimbang permintaan Alfi, mungkin
ada baiknya aku nginap di sini. Walau bagaimanapun Alfi masih anak-anak
berbahaya baginya tinggal sendirian saat ini.
“Baik, kakak nginap malam ini”
“nah gitu, sekarang Alfi buatin kakak
minum dulu ya”
Alfi menghilang ke dapur, tak lama ia
kembali dengan segelas air jeruk hangat. Tak menunggu lama kuhabiskan sebab aku
memang haus dan penat.
“kakak tidur di kamar kak Sandra saja
ya. Air hangat juga ada di kamar mandi”
Aku tersenyum geli mendengar ucapan
anak itu, tentunya Sandra mendidik ia agar bisa mandiri dan bertanggung jawab.
“makasih Fii, kakak mau mandi dan
mungkin langsung tidur. Kamu sudah periksa semua kunci pintu keluar kan?”
“Sudah semua Kak”
Semua lampu pada semua ruangan segera
dimatikan Alfi. Aku segera membuang kepenatanku dengan mandi air hangat di
bawah siraman shower. Selesai mandi rasa haus masih mengangguku hingga aku
bergegas ke dapur untuk mengambil minum. Tanpa menghidupkan lampu aku mampu
melihat arah menuju ke dapur.
Saat melewati kamar di lantai bawah,
aku tercekat…kudengar suara nafas yang agak memburu dan desah tertahan…dan
semakin jelas ketika aku mendekat, kulihat pintu kamar tidak tertutup rapat dan
ada sedikit celah yang memungkinkan aku bisa melihat isi kamar dari pantulan
cermin yang terletak berserangan dengan letak pintu, dan kini aku yang
terhenyak.
Dari pantulan cermin kulihat Alfi,
telentang di atas ranjang telanjang dan tangannya sedang menggenggam
kemaluannya, bergerak teratur naik turun, tentu saja aku tahu kalau anak itu
sedang bermasturbasi. Aku pernah membaca suatu artikel bahwah Remaja seusia
Alfi sedang memasuki masa puber.
Mereka mulai tertarik dan menyukai
lawan jenisnya. Remaja seusia itu sedang berkembang organ reproduktif.
Angan-angan dan fantasi seks membawa mereka untuk melakukan masturbasi. Namun
yang membuatku terpana adalah ukuran kemaluan anak itu…, sangat besar dan
panjang…bahkan terlalu besar untuk ukuran anak seusianya.
Aku pernah melihat kemaluan pria
dewasa pada sebuah situs X di internet, kubandingkan dengan milik Alfi ternyata
ukurannya nyaris sama besarnya! Sekilas terlihat kalau genggaman tangan anak
itu sama sekali tak menutupi kepala kemaluannya yang tampak merah dan belum
disunat.
Alfi masih mendesah perlahan dan tiba
tiba ia mempercepat gerakan tangannya lalau tubuhnya mengejang dan dari lubang
pipis kepala kemaluannya keluar dengan semprotan yang cukup keras melambung
keudara dan cairan itu mendarat didadanya, beberapa kali kepala kemaluan itu
Nampak menyemprotkan cairan dan akhirnya dengan lesu tangan pemuda berusia 16
tahun itu mengendur dan menggapai tissue di meja sisi ranjang.
Suatu perasaan ‘menggelitik’ mulai
menerpaku turun ke ke bawah ke antara kedua kakiku…aku tahu kalau kemaluanku
mulai melembab menyaksikan pemandangan itu. Aku baru menyadari kalau celana
dalamku ternyata sangat basah. Aku yang sempat terpana segera sadar dan cepat
cepat menuju ke kamarku, kalau saja sampai terlihat, aku… menonton ia
bermasturbasi wah
Malam itu aku tertidur cepat, rasanya
kepalaku begitu berat dan ngantuk. Tidak biasanya aku seperti ini, terkadang
aku masih betah berjam-jam di depan TV saat pulang kerja.
Begitu ngantuknya aku hingga lupa
mengunci pintu kamarku. Kasur Sandra yang empuk mempercepat perjalananku ke
alam mimpi. Lama setelah terlelap sampai aku dihinggapi sebuah mimpi. Aku
merasakan sesuatu terjadi pada diriku, diawali muncul rasa geli yang aneh pada
selangkanganku.
semakin lama yang kurasakan geli itu
berangsur menjadi rasa nikmat yang dasyat yang belum pernah kurasakan selama
ini. Kini rasa nikmat itu semakin tak tertahankan menjalar ke sekujur tubuhku.
Sampai akhirnya aku terjaga mulanya bingung rasa nikmat tadi masih terasa
bahkan lebih menyengat, sesaat aku sadar.
tapi belum sempat aku bereaksi, aku
menjerit kaget, ketika tahu-tahu, Aku mendapati Alfi berada di antara sela-sela
kedua paha putih mulusku. Wajahnya terbenam berada tepat di hadapan
selangkanganku. Tanpa harus melepas terlebih dahulu cukup dengan jarinya Alfi
menyingkap kesamping celana dalam yang tipisku. ia begitu asyik melumat
kewanitaanku. lidahnya menjilati setiap jengkal daging kemaluanku yang mulai
basah bagai seekor induk kucing memandikan anaknya
“Fiiiii..apa yang sudah kamu lakukan
pada kak Dian…ouhhhh?”
Anak itu tak menghiraukan pertanyaanku
ia tetap asyik dengan kelakuan cabulnya.
Percuma saja aku berusaha untuk
merapatkan pahaku, percuma aku mencoba mendorong kepalanya dan terlambat, bibir
mulutnya telah menguasai bibir daging kemaluanku secara total, yang kurasakan
kini sensasi gatal nikmat yang menggila
Ouuggggggh!!!
Ada yang tak kumengerti aku Aku tak
kuasa menolak keinginan Alfi dan membiarkan diriku ia jamahi. Mataku terpejam
tak sanggup menahan malu, selama ini belum pernah ada laki laki yang berani
menjamahku karena aku sangat galak menjaganya, tapi kali ini aku tak berdaya
menolak seorang bocah dibawah umur berusaha mencabuliku.
Tubuhku mengelinjang gelinjang menahan
birahi karena cumbuan Alfi kini berpindah ke dadaku, secara bergantian Alfi
menghisap hisap kedua puting susuku yang kenyal itu bagaikan bayi yang
kehausan.
“oohh… oohhhh… ooohhhhhh”suara
rintihanku tak dapat lagi kutahan. anak ini benar benar pintar merangsangku.
Kemaluanku mulai terasa basah
dibuatnya. Perlahan kurasakan Alfi celana dalamku diplorotkannya kebawah, tak
lama menyusul lepas sehingga tubuhku yang indah sudah tak tertutup selembar
benangpun. Aku mengeluh pasrah ketika Alfi mendorongku hingga rebah terlentang
diatas kasur.
Aku berusaha merapatkan kedua kakiku
agar kepala Alfi menjauh dari celah intimku. Namun semuanya percuma. Alfi
berhasil membenamkan wajahnya pada selangkanganku, lidahnya menemukan apa yang
ia cari dan inginkan
dengan penuh ketelatenan dia melahap
dan menghisap hisap vaginaku yang sudah basah itu, lidahnya dengan liar
menjilati dinding vagina dan klitorisku. Rasa geli dan sengatan birahi
membuatku semakin tak mampu menahan laju gairah Alfi.
Aku terpekik pekik kecil dibuatnya,
anak ini benar benar sudah sangat berpengalaman. Perlakuannya sungguh membuat
diriku serasa terbang, tubuhku menggelinjang-gelinjang geli diiringi erangan
nikmat. Sampai akhirnya kurasakan otot vaginaku mengejang dahsyat,
“ouuughhhh!!!!…Fiiiiiiiiii” pekikku
tak kuasa menahan rasa geli dan nikmat yang ditimbulkan jilatan-jilatan
lidahnya.
Inikah yang disebut orgasme? Begitu
dasyat kenikmatan yang kurasakan. Dan aku memperoleh orgasme pertamaku dari
seorang anak kecil di bawah umur yang sedang mencabuliku. Saat itu kurasakan
seluruh tubuhku menggeletar, pandanganku nanar, serasa jiwaku melayang tinggi,
ragaku serasa terendam ke dalam samudera kenikmatan ragawi yang tak bertepi.
Kesadaranku seperti hilang, yang
kulihat hanya warna putih yang berpendar di mataku lalu menjadi kabur. Entah
berapa lama aku tak sadar. Lalu perlahan-lahan bisa kurasakan kesadaranku telah
hampir sepenuhnya pulih. Kurasakan lidah itu masih saja bekerja menjilati dan
menjalari seluruh relung vaginaku. Tanpa sadar pula aku malah membuka
keduabelah kakiku seolah-olah berharap Alfi menjilat dan menghisap isi vaginaku
yang membanjir.
“Sluurrpp… sluurpp.. sshhrrpp..” bunyi
yang timbul ketika Alfi menghisap habis tiap tetes cairan cintaku tanpa sisa.
Sesaat setelah itu seperti terlambat
kusadari bahwa Alfi telah mengambil posisi menindihku, pinggulnya tepat di atas
pinggulku yang terbuka, dan tubuhnya di antara kedua kakiku yang masih
terpentang lebar.
“Alfi… kamu mau apaaa?..”
“Kak Dian, Alfi ngentot kakak
sekarang..”bisik Alfi ke telingaku..Aku terbelalak, dan juga memandangnya
dengan tidak suka. Tahulah aku, anak ini hendak menyetubuhiku,
Dan Aku semakin yakin Alfi sangat
menginginkan ini bahkan kedua kakiku yang telanjang begitu bernafsu ketika ia
membukanya lebar-lebar dan menekuk lututku, sehingga bisa kurasakan saat itu
kalau kelopakku kewanitaanku langsung bergesekan dengan penisnya tanpa
penghalang sedikitpun.
Aku hanya mampu menunggu dengan
perasaan was-was dan perasaan berdosa yang perlahan menyeruak di antara
kesadaranku. Aku sempat menahan nafas kulihat kemaluan Alfi demikian panjang
dan besar. Lalu kurasakan dengan perlahan Alfi mulai mendorong pinggulnya ke
arahku berusaha memasuki pintu kemaluan sehingga bisa kurasakan kelopakku
tertekan ke dalam..
Namun plett …kepala kemaluannya
terpeleset jauh, kucoba mengeser pinggulku ketika ia mulai mendorong lagi. Dan
Alfi mencoba lagi, plett..yang kedua kali… juga meleset.
“Uhhh…punya kakak sempit sekalii!!!”
Ujar Alfi penasaran bercampur napsu berahi yang makin memuncak.
Aduhhh ibuu… aku seperti terselamatkan
ketika ia tak kunjung bisa menembusku. Aku masih berdebar debar dan menahan
nafas, dibukanya kedua kakiku makin lebar, bahkan kali ini jemarinya membuka
kedua bibir vaginaku dan membantu mengarahkan penisnya tepat pada kewanitaanku.
Alfi mendorong pinggulnya lagi ke arahku sehingga bisa kurasakan ujung penisnya
mulai menyelusup seakan membelah kelopak kewanitaanku.
Aku merasa bernafsu sekali. Dan
nampaknya kali ini ia akan berhasil memasukikuAkhirnya aku hanya bisa pasrah
sambil memejamkan mata menunggu detik-detik ketika penisnya menerobos vaginaku
“Auuw ..Akhh… auuww..! ”
Keringatku bercucuran membasahi
tubuhku yang telanjang bulat, liang wanitaku mulai ditembus oleh Alfi tanpa
sanggup kucegah lagi. Alfi yang sudah berpengalaman tak ingin tusukanya luput
karena rontaanku segera ia memeluk pinggangku, lalu dengan cepat, ditekan
pantatnya kembali kedepan sehingga separuh batang kelakiannya pun amblas masuk
ke dalam vaginaku.
“Aakkhhh… !” Aku memekik . Sesaat aku
masih meronta ronta pelan, namun karena pegangan kedua tangan Alfi di pantatku
sangat kuat hingga rontaanku tiada arti. Batang penis terus menerobos masuk
mengkoyak koyak ,Tubuhku yang putih mulus kini tak berdaya dibawah himpitan
tubun Alfi yang kecil .Sesaat Alfi mendiamkan seluruh batang penisnya terbenam
membelah vaginaku sampai menyentuh rahimku, perutku terasa mulas dibuatnya.
Alfi sambil mulai menggoyang pantatnya
maju mundur perlahan. Penis Alfi kurasakan terlalu besar menusuk vaginaku yang
masih sempit, setiap gesekan penis Alfi menimbulkan rasa nyeri yang membuatku
merintih rintih. Semakin lama batang penis Alfi semakin lancar keluar masuk
menggesek vaginaku karena cairan licin vaginaku mulai keluar secara alamiah,,
rintihanku perlahan mulai hilang berganti dengan suara napas yang berirama dan
terengah engah.
Bocah nakal ini ternyata memang pintar
membangkitkan nafsuku. hisapan hisapan lidahnya pada putingku menyebabkan benda
itu makin mengeras saja. Bagaimanapun juga aku adalah manusia normal yang juga
punya napsu birahi, sadar atau tidak aku mulai terbawa nikmat oleh
permainannya,lebih baik kunikmati saja persetubuhan ini.
“Ooooh… , oooouugh… , aahhmm… ,
ssstthh!” .erangan panjang keluar dari mulutku yang mungil.
Akhirnya aku biarkan diriku terbuai
dan larut dalam goyangan birahi Alfi. Aku memejamkan mata berusaha menikmati
perasaan itu, aku masih sulit percaya membayangkan yang sedang mencumbui
tubuhku ini adalah seorang ABG berumur 16 tahun. Penisnya kini mulai meluncur
mulus sampai menyentuh rahimku.
Aku mengerang setiap kali dia
menyodokkan penisnya. Gesekan demi gesekan, sodokan demi sodokan sungguh
membuatku terbuai dan semakin menikmati persetubuhan ini, aku tidak perduli
lagi orang ini sesungguhnya adalah anak kecil. Sambil bergoyang menyetubuhiku
bibirnya tidak henti-hentinya melumat bibir dan pentil susuku, tangannyapun
rajin menjamahi tiap lekuk tubuhku sehingga membuatku menggeliat geliat
kenikmatan.
Rintihan panjang akhirnya keluar lagi
dari mulutku ketika mulai mencapai klimaks, sekujur tubuhku mengejang beberapa
detik sebelum melemas kembali. Keringat bercucuran membasahi tubuhku yang polos
itu sehingga kulitku yang putih bersih kelihatan mengkilat membuat Alfi semakin
bernapsu menggumuliku.
Birahi Alfi semakin menggila melihat
tubuhku yang begitu cantik dan mulus itu tergeletak pasrah tak berdaya di
hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluanku
yang mungil itu menjepit dengan ketat batang penisnya yang cukup besar itu.
Sungguh ironi memang, gadis muda secantik aku terpaksa mendapatkan kenikmatan
seperti ini bukan dengan kekasihku, akan tetapi dengan anak kecil yang sedang
mencabuliku.
“Ouughh..oohhh… ooohhhh… “Aku merintih
halus ketika kurasakan batang penis Alfi besar masih bersarang di vaginaku
sementara ujungnya menyentuh rahimku.
Rintihanku semakin keras saat anak itu
mulai melumati buah dadaku sehingga menimbulkan perasaan geli yang amat sangat
setiap kali lidahnya memyapu nyapu puting susuku .
Kepalaku tertengadah lemas ke atas,
pasrah dengan mata setengah terkatup menahan kenikmatan yang melanda tubuhku
sehingga dengan leluasanya mulut Alfi bisa melumati bibirku yang agak basah
terbuka itu. Setelah beberapa saat puas menikmati bibirku yang lembut dia mulai
menggerakkan tubuhku naik turun.
“Ouuhhh… kak!!! Jepitan vagina kakak
enak sekaliii… “suara Alfi sayup sayup kudengar ditelingaku.Aku tak
memperdulikannya lagi, saat ini tubuhku tengah terguncang guncang hebat oleh
goyangan pinggul Alfi yang semakin cepat. Terkadang bocah ini melakukan gerakan
memutar sehingga vaginaku terasa seperti diaduk-aduk.
Aku dipaksa terus mempercepat
goyanganku karena merasa sudah mau keluar, makin lama gerakannya makin liar dan
eranganku pun makin tidak karuan menahan nikmat yang luar biasa itu. Dan ketika
orgasme kedua itu sampai, aku menjerit histeris sambil mempererat pelukanku.
Pinggulku terangkat sedikit aku
lakukan itu tanpa sadar karena takut kontol Alfi terlepas dari cengkeraman
vaginaku ternyata nikmat sekali sensasi ini. Benar-benar dahsyat yang kuperoleh
walaupun bukan dari pria dewasa. Walau pun masih kecil tapi Alfi masih mampu
menaklukan gadis dewasa sepertiku.
Kali ini dia membalikkan badanku
hingga posisi tubuhku menungging lalu mengarahkan kemaluannya di antara kedua
belah pahaku dari belakang. Dengan sekali sentak Alfi menarik pinggulku ke
arahnya, sehingga kepala penis tersebut membelah dan terjepit dengan kuat oleh
bibir-bibir kemaluanku.
“Oooooouh… ouuuhhgh!” untuk kesekian
kalinya penis laki-laki tersebut menerobos masuk ke dalam liang vaginaku dan
Alfi terus menekan pantatnya sehingga perutnya yang kurus itu menempel ketat
pada pantat mulusku.
Selanjutnya dengan ganasnya Alfi
memainkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutnya mendesis-desis
keenakan merasakan penisnya terjepit dan tergesek-gesek di dalam lubang
vaginaku yang masih rapat itu. Walaupun berusaha bertahan aku ahirnya kewalahan
juga menghadapi Alfi yang ganas dan kuat itu. Bocah cabul itu benar-benar luar
biasa tenaganya.
Sudah hampir satu jam ia menggoyang
dan menyetubuhiku tetapi tenaganya tetap prima. Tangannya terus bergerilya
merambahi lekuk-lekuk tubuhku. Harus kuakui sungguh hebat anak lelaki seumur
dia dapat bertahan begitu lama dan membuatku orgasme berkali-kali, mungkin
karena sebelumnya dia sudah biasa, aah… entahlah..
Aku tidak perduli hal itu, yang
penting aku sudah ia bikin merasakan kenikmatan ragawi walau harus merelahkan
kegadisanku. Aku pasrah saja ketika tubuhku kembali di terlentangkan Alfi
diatas kasur dan digumulinya lagi dengan penuh birahi. Rasanya tak ada lagi
bagian tubuhku yang terlewatkan dari jamahannya. Alfi terus melakukan gerakan
maju mundur beberapa kali, yang awalnya perlahan, lalu semakin cepat dan
beberapa menit kemudian
Ougggggh…Kakkkk Diannnn!!!” Alfi
terpekik nikmat sambil memuncratkan spermanya di dalam rahimku.
Ada rasa hangat didalam rahimku saat
ia muncrat itu. Gerakannya semakin melemah lalu ambruk di dadaku. Kemaluannya
sudah kembali keukuran semula dan terlepas dari kelaminku, aku lalu
mendorongnya ke sampingku. Ia pun rebah di sana. Kini aku berusaha bangun dari
rebahan.
Aku merasakan rasa sakit dan nyeri di
selangkanganku.Benar yang dikatakan temanku bahwa jika telah diperawani untuk
pertama kali, akan susah berjalan, aku hanya bisa duduk. Rasa nyeri mendera
liang kelaminku. Saat itu aku melihat lelehan darah segar di pahaku, juga di
sprey yang kusut itu Tubuh telanjangku aku tutup dengan selimut tebal. Selain
kesadaranku sudah pulih ditambah hawa dingin yang masih terasa.
Aku lihat di sampingku tergolek tubuh
hitamnya. Alfi Ia terlihat sangat nyenyak, juga di wajahnya tersirat kepuasan.
Di dalam hatiku aku serasa ingin marah dan mengusirnya yang masih tidur di
ranjangku.Aku pandangi wajah bocahnya. Mulai dari kepalanya, hingga perutnya
yang hitam juga benda panjang yang baru saja mengaduk aduk kewanitaanku.
Dia masih terlelap dan saat itu
tubuhnya hanya tidak tertutup apapun juga.Aku heran dia tidak merasakan dingin,
sedangkan aku hampir saja menggigil.. Di saat aku berusaha untuk memicingkan
mata Alfi terbangun. Ia lalu membelai bahuku dan menghembuskan nafasnya yang
hangat.Aku sadar ia sepertinya ingin merangsangku kembali.
Namun perbuatannya itu aku biarkan
saja tanpa menggubrisnya. Ia semakin meningkatkan rabaanya di bahu dan
payudaraku. Aku merinding saat itu, dan berusaha menghalangi dia mencium
tengkukku. Usahaku tidak berhasil, malah dia yang semakin berusaha membalikan
wajahku untuk berbalik ke arah wajahnya.
Dalam keadaan itu akupun terpaksa
menghadap wajahnya. Lalu ia raih daguku dan ops…bibirku langsung disergap
dengan ciuman. Tangannya tak tinggal diam, meremas dan membelai buah dadaku.
Aku semakin merintih menahan rasa geli dan hangatnya belaian tangan kecilnya.
Lalu tangan kirinya turun ke bawah,
kearah liang kewanitaanku. Membelai belai klitorisku lalu dengan jarinya
tengahnya ia merogoh bagian dalam liang kewanitaanku yang kini sudah tidak
perawan lagi. Aku semakin tak kuasa menahan setiap gerakan jarinya. Aku sudah
mulai terbakar birahi lagi.
Mukaku kembali memerah dan keringat ku
kembali timbul, karena aku merasakan tubuhku tidak dingin, kini sudah panas
karena birahi. Alfi beranjak bangun sambil menyingkirkan selimut yang menutupi
kami saat itu.Kini tubuhku dan Alfi sudah sama terbuka.
Ia berusaha membuka kedua pahaku
kembali dan memposisikan tubuhnya tepat diantara pahaku.Aku tahu ia kembali
ingin menghabiskan malam itu denganku dengan melakukan hubungan badan kembali.
Dan sepertinya iapun tahu jika aku sudah siap untuk disenggamainya lagi.
Kini aku cenderung menurut apa yang
akan ia lakukan. Malah kini aku membantunya dengan membuka kedua pahaku lebih
lebar untuk di masukinya. Kini kami sudah berhadap-hadapan, siap untuk
melakukan keintiman. Bertahap dan penuh kehati-hatian Alfi mulai mengarahkan
kemaluannya ke dalam vaginaku.
Aku kini merasakan sensasinya amat
dalam. Kini aku sudah tidak terpaksa lagi. Awalnya hanya kepala kemaluannya
yang menyentuh bibir liang senggamanku, lalu berangsur semuanya.Aku kini
merasakan sentuhan kemaluan Alfi masuk ke dalam liang vagina hingga menyentuh
rahimku.
Meski rasa perih dan nyilu masih
terasa, namun aku sudah tidak memperdulikannya. Alfi bergerak maju mundur
mengocok dengan teratur. Kali ini begitu penuh perasaan dan kelembutan. Ketika
ia terus memandangi mataku, aku jadi malu sehingga kupejamkan mataku ini.
Lalu gerakannya kembali berangsur
cepat dan cepat. Aku merasakan ada sesuatu yang akan meledak di dalam
kewanitaanku. Aku berusaha menahan rasa itu hingga tanpa bisa aku halangi, kini
malah tubuhku serasa mengejang dan otot-otot diseluruh persendianku mengeras.
“Arggggg!!!…Fiiii” pekikku nikmat
Aku mendapatkan orgasmeku,namun Alfi
masih saja tetap masih dalam gerakan memompa semakin cepat. Tangannya tak
tinggal diam sambil meremas kedua payudaraku. Aku semakin tak bisa
mengendalikan diri lagi. Aku raih bahunya, dan aku jepitkan kedua kakiku di pinggangnya.
Hingga beberapa menit kemudian tubuh
Alfi langsung mengejang dan gerakannya pinggulnya seakan mendorong kemaluannya
ke dalam rahimku. Ia seakan ingin memasukan kemaluannya lebih dalam lagi. Tanpa
bisa aku cegah lagi, ia pun menumpahkan air spermanya dalam rahimku. Ia lalu
memelukku amat erat, seakan tak mau terpisah dari tubuhku.
Keadaan kami masih dalam posisi
berdempetan dengan tubuhku di bawah tindihan tubuh kurusnya tanpa melepas
ikatan kelamin kami. Dengan tubuh masih basah oleh keringat dan lendir sisa
sisa persenggamaan, Aku pun akhirnya tertidur bersama Alfi sambil berpelukan di
ranjangku.
Paginya aku terbangun dan sudah tidak
melihat Alfi lagi di sampingku. Aku berusaha bangkit dari ranjang, baru saja
akan menginjakkan kaki di lantai, oh…aku kembali merasakan nyilu di kemaluanku.
Dengan tertatih aku berjalan keluar kamar menuju ke kamar mandi dan
membersihkan tubuhku dari sisa sisa persebadanan kemarin.
Semua lendir dan jejak jejak yang
menempel di tubuhku aku bersihkan dengan sabun. Kemudian aku masuk kamar untuk
mengambil pakaian. Kulihat Alfi sudah berada di dalam kamarku. Ia tampak baru
saja mengganti kain sprey yang sudah kotor dan ternoda darah kehormatanku.
Ia kemudian membawa sprey itu ke luar
kamar dan merendamnya. Tidak lama kemudian ia masuk lagi ke dalam kamarku. Aku
kaget dan agak kesal padanya yang seenaknya masuk kamarku dan mengecup bahuku.
Ia diam dan malah memandang mataku dalam-dalam.
“Maafin Alfi ya kak… Alfi tidak tahan
lagi sudah satu bulan Alfi ngga ngentot…begitu liat kak Dian Alfi jadi nafsu
banget.”
“ka.. kamu sudahh sering melakukan ini
,fii?”
Alfi mengangguk. Sudah kuduga anak ini
pasti sudah sering sekali melakukan hal ini. Hanya saja aku heran bagaimana
mungkin ia leluasa berbuat itu dalam pengawasan Sandra. Sungguh teledor
sahabatku itu, tanpa sepengetahuannya mungkin saja Alfi begituan dengan
pembantu sebelah atau perempuan apalah, sehingga dalam usia masih dibawah umur
Alfi sudah terlanjur mangenal seks bebas, pikirku.
”Kalau boleh kakak tahu sama siapa
kamu sering melakukan itu, Fi?” Alfi nanpak terlihat ragu-ragu ketika kutanya
hal itu
“Tapi kakak jangan bilang siapa-siapa
ya..”
“Ok Kakak janji”
“Betul ya kak, Alfi takut orang lain
tau, Alfi bisa celaka”ujarnya memelas.
“Bukankah sejak tadi malam kakak sudah
jadi istri kamu, seorang istri khan harus menjaga rahasia suaminya ,ayo fii
bilang sama kakak” rayuku sungguh aku penasaran siapa perempuan yang selama ini
telah tidur dengan pejantan kecil ini.
“Alfi akan kasih tahu kakak siapa dia?
…gadis itu ..Kak Sandra”
Aku kaget bukan kepalang, seakan tak
percaya apa yang ku dengar dari pengakuan Alfi
“Apaaa??…Sa..Sandraaa? Kamu tidak
sedang main-mainkan fii”
“Ngga kak, Alfi jujur sma kakak sebab
Alfi sayang kak Dian”
“se..sejakk kapaannn Fiii?” aku
tergagap
Lalu Alfi menceritakan suatu kisah
yang sungguh luar biasa buat kudengar. Tak pernah terbayangkan olehku sahabatku
Sandra Lebih gilanya lagi hal itu atas permintaan sang calon suaminya, Didit,
dan selama satu tahun ini mereka melakukannya nyaris hampir setiap hari,
malam-malam Sandra diisi dengan persetubuhan panas dengan sang Alfi si ABG
ingusan ini.
Didit sendiri lebih puas hanya
bermasturbasi di sofa menonton persetubuhan istrinya dengan anak itu. Aku
mendengarkan sambil melongo dengan takjub dan napsu birahiku naik menjalar
keseluruh tubuhku sepanjang Alfi bercerita,
”Kakakpun kini sudah ternoda oleh
ulahmu tadi malam, kamu tidak akan meninggalkan kakak kan, Fii”
“Tentu kak, Alfi cinta kak Dian, Alfi
sayang kak Dian..Alfi juga mau jadi suami kak Dian kalo Alfi sudah cukup umur
menikah”
“hi hi.. kecil-kecil pintar ngegombal
kamu, Fii. Lantas bagaimana dengan Sandra?” godaku
“mulai sekarang Alfi akan membagi
waktu buat kak Dian dan kak Sandra, Alfi sanggup kak”
Alfi menunjukan tekatnya padaku,
sambil kembali mencium bibirku, aku bahkan kini membalas ciumannya dengan liar.
“kak..Boleh Alfi malakukannya lagi
sama kak Dian?” bisiknya
Entah terpengaruh oleh cerita Alfi
barusan atau memang aku sangat ingin Alfi melakukannya sehingga aku diam saja
saat Alfi membaringkan tubuhku di ranjang. Ia lalu menciumi rambutku yang masih
basah karena keramas. Iapun sedang berusaha untuk melepaskan handuk ku.
Aku seakan tak berdaya, menolaknya.
Dan akhirnya di pagi hari itu, kami kembali mengayuh kebersamaan ragawi
bersama.Aku beberapa kali mengalami orgasme. Tubuhku seakan semakin mampu
membalas perlakuannya. Aku pun sudah tak malu malu lagi memegang alat kelaminnya
yang masih kokoh itu
Selama tiga hari aku tak ngantor,
kubuat saja alasan sakit. Selama tiga hari itu pula aku dikekapi Alfi. Aku rela
dijadikan budak nafsunya. Celana dalamku tak pernah sempat terpasang lagi.
Sepanjang hari kerja kami hanyalah bersenggama, bersenggama dan bersenggama
saja.
Untunglah makanan selalu tersedia di
lemari es Sandra sehingga aku tidak perlu keluar rumah. Tak kami sadari saat
Sandra pulang. Ketika itu kami berdua sedang mengarungi puncak ombak lautan
birahi, tentu saja ia memiliki kunci untuk masuk ke dalam rumahnya sendiri.
Persetubuhan kami mendadak terhenti,
aku terkejut melihat Sandra sudah berdiri di muka pintu kamar .Entah sudah
berapa lama ia berdiri di situ melihat perbuatan kami. Bukan main malu sekali
rasanya tertangkap basah dalam keadaan seperti itu. Dekapan kami terlepas dan
aku mencoba meraih selimut untuk menutup tubuhku yang telanjang. Sementara Alfi
berdiri ketakutan.. kasihan anak itu hanya tertunduk tak berani menatap wajah
Sandra.
“Fii sinii!!” Alfi mendekat dengan
takut-takut dipanggil temanku itu
Sungguh diluar dugaan Sandra malah
memagut bibir Alfi dan Alfi yang terkejut karena senang membalas menciumnya
dengan liar dan akhirnya mereka saling melumat.
“Fii..kakak kangen” ujar Sandra manja
“Alfi juga kak, jangan tinggalkan Alfi
lama-lama lagi ya kak”
“iya kakak janji Fii”
“Kakak ingin kamu intimi tapi sekarang
kamu mandi dulu sepertinya kamu ngga mandi berhari-hari.. ya, mentang-mentang
nemu perawan cantik”
Alfi nyengir lalu menghilang ke arah
belakang. Kini tinggal aku berdua dengan Sandra
“Sannnd…kamu sudah pulang?” aku
berusaha menyapanya meski rikuh.
Aku bertambah salah tingkah saat
tiba-tiba Sandra tersenyum-senyum nakal.
“hi..hii..hiii.. Dian sayang, akhirnya
kamu ketemu batunya sama Alfi”
“Maaf ya Sand… aku tak bermaksud
merebut Alfi darimu…aku..”
“ngga pa pa kok aku rela berbagi sama
kamu..aku sengaja pulang lebih awal karena takut Alfi direbut perempuan lain
karena tak kuat menahan nafsunya. Untung Alfi menemukan kamu manis.”
“Bener kamu ngga marah Sand?”
Senyum merekah Sandra membuatku yakin
akan perkataannya.
“Malah aku harus minta maaf telah
mengganggu kemesraan kalian Aku suka kamu melakukannya sama Alfi ketimbang kau
digituin sama cowok2 keren tapi ngga mampu ngasih kepuasan sama kamu”
“Sand..apakah aku bakalan hamil?, Alfi
tak pernah sekalipun memakai kondom atau kontrasepsi ketika berhubungan badan
denganku.”
“maybe yes..maybe no..hi..hi.hi”
“Sannnd…”
“jangan kuatir Dian sayang… selama
satu tahun kami tak pernah sekalipun menggunakan pengaman saat senggama namun
aku tak kunjung hamil meski aku dan Alfi sangat menginginkannya dan kalau pun
kamu hamil anakmu nanti biarlah aku yang mengurus”
Ujar Sandra membelai rambutku.
“Sand..”
“ya?”
“ironis sekali, dulu sewaktu smu juga
saat kuliah sudah berapa cowok kita campakkan tapi kini kita berdua malah jatuh
di kaki seorang anak ABG di bawah umur macam Alfi”
“Alfi memang berbeda dari anak lain
seusianya. Bahkan, kalau boleh aku jujur, hanya dengan Alfi-lah, aku
mendapatkan kepuasan yang sejati meski cintaku hanya buat suamiku”
Sejak saat itu, hubungan antara aku
dengan Alfi tak terpisahkan lagi. Hari-hari kami diisi oleh
persetubuhan-persetubuhan yang amat panas. Alfi berlaku bagai seorang suaminya
yang baik, mampu mengiliri aku dan Sandra, bahkan terkadang kami lah dibuatnya kewalahan
melayani libidonya yang besar.
Sandra memintaku untuk tinggal bersama
serumah dengan mereka dulu. Sebuah kamar baru mereka buatkan untukku, bahkan
Sandra juga tidak menghalangi apalagi melarang aku untuk berhubungan seks
dengan suaminya Didiet.


